"Dunia Dalam Pikiran"


Kamis, 27 Desember 2012

Penghibur Hati

Sudah lama aku berpikir tentang hati. Tentang hatimu yang terluka karenanya. Cinta yang kamu jaga dengan seluruh cintamu. Sejak aku mengenalmu, sudah banyak kisah cinta yang kamu ceritakan. Betapa besar rasa yang kamu tanam untuknya. Setiap aku mendengar kata demi kata yang kamu lontarkan semakin aku tahu begitu besar pujimu untuknya. Alunan kata cintamu seperti bait-bait puisi romantis yang mungkin akan membuat Cleopatra cemburu padanya. Waktu demi waktu aku tetap setia mendengar ceritamu. Terkadang aku terhanyut dan melupakan kenyataan bahwa cinta itu bukan untukku. Dan ketika tersadar aku langsung menangisi kebodohanku karena sudah merasa hatimu milikku. Nyatanya tidak. Tugasku hanya menemanimu dan menjagamu. Selama masa sakitmu karena cinta yang diambil paksa darimu. Aku hanya penghibur hati. Terus menemanimu sampai aku tahu kamu sudah bisa berjalan tegak kembali. Jika saat itu tiba aku akan menghilang. Nanti mungkin sudah tidak ada lagi kita.

Senin, 24 Desember 2012

Tak Mungkin Memutar Waktu

Aku tak mungkin memutar waktu, mengembalikan segala keadaan pada tempatnya semula. Tempat di mana semua dimulai. Denganmu. Jika saja sejak awal aku tahu akan sesakit ini jadinya aku tidak akan pernah memulai. Segalanya menjadi kacau, menjadi salah menurutku. Bagaimana denganmu?
Salahkah kita yang telah memulai semua ini sejak awal?
Bayangan kita bisa pergi kemana saja. berkhayal. berangan-angan tanpa menemukan ujung. Tapi tahukah kau bahwa aku tetap diam berdiri di tempat yang sama dari awal kisah ini dimulai. Tanpa melangkah sedikitpun. Aku pun tidak mencoba memasuki ruanganmu karena aku tahu sulit untuk mengajakmu bicara. Kau masih saja tidur dan terbuai dalam mimpi. Kau tidak pernah berniat untuk bangun atau aku yang terlalu perasa hingga merasa seperti itu. Dari awal ada beberapa pertanyaanku yang tidak mungkin menemukan jawabannya dan tidak akan pernah aku tanyakan padamu selama kau masih seperti ini. Tenggelam pada trauma dan masih selalu mengingat dia. Cintamu dahulu.

Selasa, 11 Desember 2012

Nyata Semu

Kita seperti berjalan pada sebuah jembatan yang sewaktu-waktu bisa putus. Seperti bom dalam rentan waktu yang tidak bisa kita pastikan. Mungkin saja, entah kapan tidak akan ada lagi kita. Kamu dan aku sudah berada dalam ruang yang berbeda saling bersebrangan tidak lagi bersinggungan. Masing-masing menjauh menuju kutub yang berlawanan. Sekarang. Saat ini segalanya terasa nyata, hadirmu, senyummu. tetapi tetap mengandung ragu terasa semu. Samar. Mengabu dalam perjalanan kita. Kamu, nyata semu bagiku.