"Dunia Dalam Pikiran"


Minggu, 01 Desember 2013

Sepotong Masa

Ya Tuhan..
Mengapa kau beri aku orang-orang yang membenci
Mengapa kau jejerkan kepedihan dalam hidupanku
Mengapa kau beri cobaan terberatuntukku

Ya Allah…
Kenapa kau tidak memberiku orang-orang yang menyayang
Kenapa kau tidak beri keindahan dalam kehidupanku
Kenapa kau tidak memberi secercah harapan di kehidupan
Bagiku, kehidupanku sudah sangat kacau

Orang tua yang asing
Kakak-kakak yang sibuk
Keluarga yang tidak pernah kukenal, dan
Teman-teman yang menjauh

Setelah ini cobaan apa lagi yang akan kau beri padaku
Sungguh masalah yang berlalu masih menjadi beban untukku
Aku merasa telah gagal menyelesaikan semua itu
Berapa pun banyak waktu yang kau beri
Aku tidak akan bisa membuat semua kembali normal
Semua adalah salahku

Aku tidak bisa mengatur waktuku
Aku tidak bisa menjaga perasaanku
Aku selalu bertanya dalam hatiku
Kenapa aku tidak pernah bisa jujur pada keadaanku?
Sekarang hanya sesal yang ada

Semua yang berlalu hanya tersimpan dalam ingatan
Sepotong memory yang masih tersisa dan akan terkenang
Semua menjadi pelajaran untuk menjalani kehidupan mendatang
Masa lalu bagiku adalah salah satu pelajaran untuk menjalani hidup


(sabrina, 2005)

Rabu, 19 Juni 2013

Seharusnya Waktu

Dari sekian waktu bersamanya nyatanya semua belum cukup untuk membuatnya belajar mengalihkan kenangan. Tidak pernah meminta untuk menghilangkan atau membuang sepenuhnya. Hanya meminta tinggalkan di belakang, di gudangnya. Ingatan yang berhubungan dengan masa masih tersimpan rapi di setiap sudut hatinya.

Bagaimana denganku?

Seharusnya, kenangan sudah tersimpan di gudangmu namun nyata berkata lain. Sudah lama sekali mengetahui jejak kenanganmu dengannya. Sudah lama berakhir tapi masih harus aku temukan sisanya. Menyedihkan.

Senin, 11 Maret 2013

Kamu dan Cinta

Aku tidak mengerti mengapa aku selalu nyaman berada di dekatmu, mendengarkan suaramu menenangkan ragaku hingga penat tak betah berlama-lama menari dalam kelam yang aku bawa dari masa silam. Aku bertemu denganmu secara kebetulan. Takdir mempertemukan dengan cara yang tak biasa. Mengenalmu menimbulkan bahagia. Walau kadang tanya masih menjadi badai yang turut hadir di sini. Tidakkah kamu menyadari betapa perjalanan ini tidak biasa? Atau kamu pura-pura bersikap takacuh untuk menghindari masalah. Meski ada kamu dan cinta untukmu. Jika perjalanan ini terus menimbulkan tanya maka aku akan berhenti. Tidak mudah memang tetapi harus aku lakukan.

Kamis, 28 Februari 2013

Rasa Itu Ada

               Aku menyayangimu. Ya, dua kata yang aku tahu saat ini dan itu tertuju untukmu. Detakku bersuara lebih keras hanya untukmu. Mataku tidak pernah jenuh memandangmu. Setiap inci rupamu tidak pernah luput dari penglihatanku. Telingaku selalu mencari dengar suaramu. Rendah dan renyah. Aku suka. Aku suka kamu ada di sini. Dekat denganku dan begitu dekat. Tetapi tahukah kamu bahwa masih ada rasa khawatir yang terus saja bergemuruh dalam dadaku. Ada rasa takut dalam hatiku. Meski aku sayang padamu tetapi aku tetap takut. Bukan tidak percaya padamu.
            Entahlah, rasa ini datang begitu saja. Aku tidak pernah meminta rasa takut ini untuk betah berlama-lama dan merusak percayaku padamu. Aneh bukan, kamu begitu dekat denganku tetapi aku tetap merasa bahwa semua ini tidak nyata. Kedekataan kita seperti nyata semu bagiku. Kenyataan yang sementara dan tidak akan bertahan lebih lama lagi. Kadang aku berpikir karena aku menyayangimu maka kita harus berhenti. 
           Kamu tahu mengapa masih ada pikiran menyebalkan seperti itu? Karena aku berpikir kamu masih memikirkan kisahmu di masa lalu. Padahal aku mengerti bahwa setiap manusia akan memiliki kisahnya sendiri. Begitu juga kamu dan aku. Kita juga membawa kenangan dari masa lalu dan seharusnya aku bisa berdamai dengan hal ini. Tetapi rasa damaiku luntur ketika aku melihat matamu. Isyarat matamu masih terbagi dan bagian satunya lagi untuknya. Orang yang kamu sayangi dan mungkin sampai saat ini, sampai detik dimana kamu sudah bersamaku hingga kini. Itulah egoku yang tak pernah aku beritahukan padamu dari awal kedekatan kita. aku tidak mau mengusikmu dengan ego dan keluhanku tentang ini dan itu.
           Kini, harapku hanya satu. Harap yang mungkin hanya sebatas hembusan angin yang tak terlihat. Sebatas senja yang datang sebagai penanda malam datang. Harapku untukmu, untuk kita yang mungkin tidak pernah ada dalam nyata. Bahagialah, berbahagialah dalam harimu, dalam masa yang sudah seharusnya kamu nikmati agar kelak tidak ada sesal dihatimu. Teruslah berjuang dalam kelam yang terkadang membuatmu malas dan lelah yang membuatmu jenuh. Teruslah tersenyum untuk mereka yang peeduli padamu.
           Jika nanti aku sudah tidak ada di dekatmu ingatlah aku walau hanya di ujung ingatanmu. Sekecil apapun aku harap aku pernah ada dan berarti di hidupmu. Untukmu, asa yang harus aku kubur, harap yang tak mungkin terkabul dan kisah yang semu. Sekali lagi aku berucap aku menyayangimu. Dalam diam dalam bayang. Cinta.

Kamis, 27 Desember 2012

Penghibur Hati

Sudah lama aku berpikir tentang hati. Tentang hatimu yang terluka karenanya. Cinta yang kamu jaga dengan seluruh cintamu. Sejak aku mengenalmu, sudah banyak kisah cinta yang kamu ceritakan. Betapa besar rasa yang kamu tanam untuknya. Setiap aku mendengar kata demi kata yang kamu lontarkan semakin aku tahu begitu besar pujimu untuknya. Alunan kata cintamu seperti bait-bait puisi romantis yang mungkin akan membuat Cleopatra cemburu padanya. Waktu demi waktu aku tetap setia mendengar ceritamu. Terkadang aku terhanyut dan melupakan kenyataan bahwa cinta itu bukan untukku. Dan ketika tersadar aku langsung menangisi kebodohanku karena sudah merasa hatimu milikku. Nyatanya tidak. Tugasku hanya menemanimu dan menjagamu. Selama masa sakitmu karena cinta yang diambil paksa darimu. Aku hanya penghibur hati. Terus menemanimu sampai aku tahu kamu sudah bisa berjalan tegak kembali. Jika saat itu tiba aku akan menghilang. Nanti mungkin sudah tidak ada lagi kita.

Senin, 24 Desember 2012

Tak Mungkin Memutar Waktu

Aku tak mungkin memutar waktu, mengembalikan segala keadaan pada tempatnya semula. Tempat di mana semua dimulai. Denganmu. Jika saja sejak awal aku tahu akan sesakit ini jadinya aku tidak akan pernah memulai. Segalanya menjadi kacau, menjadi salah menurutku. Bagaimana denganmu?
Salahkah kita yang telah memulai semua ini sejak awal?
Bayangan kita bisa pergi kemana saja. berkhayal. berangan-angan tanpa menemukan ujung. Tapi tahukah kau bahwa aku tetap diam berdiri di tempat yang sama dari awal kisah ini dimulai. Tanpa melangkah sedikitpun. Aku pun tidak mencoba memasuki ruanganmu karena aku tahu sulit untuk mengajakmu bicara. Kau masih saja tidur dan terbuai dalam mimpi. Kau tidak pernah berniat untuk bangun atau aku yang terlalu perasa hingga merasa seperti itu. Dari awal ada beberapa pertanyaanku yang tidak mungkin menemukan jawabannya dan tidak akan pernah aku tanyakan padamu selama kau masih seperti ini. Tenggelam pada trauma dan masih selalu mengingat dia. Cintamu dahulu.

Selasa, 11 Desember 2012

Nyata Semu

Kita seperti berjalan pada sebuah jembatan yang sewaktu-waktu bisa putus. Seperti bom dalam rentan waktu yang tidak bisa kita pastikan. Mungkin saja, entah kapan tidak akan ada lagi kita. Kamu dan aku sudah berada dalam ruang yang berbeda saling bersebrangan tidak lagi bersinggungan. Masing-masing menjauh menuju kutub yang berlawanan. Sekarang. Saat ini segalanya terasa nyata, hadirmu, senyummu. tetapi tetap mengandung ragu terasa semu. Samar. Mengabu dalam perjalanan kita. Kamu, nyata semu bagiku.