Aku
menyayangimu. Ya, dua kata yang aku tahu saat ini dan itu
tertuju untukmu. Detakku bersuara lebih keras hanya untukmu.
Mataku tidak pernah jenuh memandangmu. Setiap inci rupamu tidak pernah luput
dari penglihatanku. Telingaku selalu mencari dengar suaramu. Rendah dan renyah.
Aku suka. Aku suka kamu ada di sini. Dekat denganku dan begitu dekat. Tetapi
tahukah kamu bahwa masih ada rasa khawatir yang terus saja bergemuruh dalam dadaku.
Ada rasa takut dalam hatiku. Meski aku sayang padamu tetapi aku tetap takut.
Bukan tidak percaya padamu.
Entahlah, rasa ini datang begitu saja. Aku
tidak pernah meminta rasa takut ini untuk betah berlama-lama dan merusak
percayaku padamu. Aneh bukan, kamu begitu dekat denganku tetapi aku tetap merasa bahwa semua ini tidak nyata. Kedekataan kita seperti
nyata semu bagiku. Kenyataan yang sementara dan tidak akan bertahan lebih lama
lagi. Kadang aku berpikir karena aku menyayangimu maka kita harus berhenti.
Kamu tahu mengapa masih ada pikiran menyebalkan seperti itu? Karena aku berpikir kamu masih memikirkan kisahmu di masa lalu. Padahal aku mengerti bahwa setiap manusia akan memiliki kisahnya sendiri. Begitu juga kamu dan aku. Kita juga membawa kenangan dari masa lalu dan seharusnya aku bisa berdamai dengan hal ini. Tetapi rasa damaiku luntur ketika aku melihat matamu. Isyarat matamu masih terbagi dan bagian satunya lagi untuknya. Orang yang kamu sayangi dan mungkin sampai saat ini, sampai detik dimana kamu sudah bersamaku hingga kini. Itulah egoku yang tak pernah aku beritahukan padamu dari awal kedekatan kita. aku tidak mau mengusikmu dengan ego dan keluhanku tentang ini dan itu.
Kamu tahu mengapa masih ada pikiran menyebalkan seperti itu? Karena aku berpikir kamu masih memikirkan kisahmu di masa lalu. Padahal aku mengerti bahwa setiap manusia akan memiliki kisahnya sendiri. Begitu juga kamu dan aku. Kita juga membawa kenangan dari masa lalu dan seharusnya aku bisa berdamai dengan hal ini. Tetapi rasa damaiku luntur ketika aku melihat matamu. Isyarat matamu masih terbagi dan bagian satunya lagi untuknya. Orang yang kamu sayangi dan mungkin sampai saat ini, sampai detik dimana kamu sudah bersamaku hingga kini. Itulah egoku yang tak pernah aku beritahukan padamu dari awal kedekatan kita. aku tidak mau mengusikmu dengan ego dan keluhanku tentang ini dan itu.
Kini, harapku hanya
satu. Harap yang mungkin hanya sebatas hembusan angin yang tak terlihat.
Sebatas senja yang datang sebagai penanda malam datang. Harapku untukmu, untuk
kita yang mungkin tidak pernah ada dalam nyata. Bahagialah, berbahagialah dalam
harimu, dalam masa yang sudah seharusnya kamu nikmati agar kelak tidak ada sesal
dihatimu. Teruslah berjuang dalam kelam yang terkadang membuatmu malas dan
lelah yang membuatmu jenuh. Teruslah tersenyum untuk mereka yang peeduli padamu.
Jika nanti aku sudah tidak ada di dekatmu ingatlah aku walau hanya di ujung ingatanmu. Sekecil apapun aku harap aku pernah ada dan berarti di hidupmu. Untukmu, asa yang harus aku kubur, harap yang tak mungkin terkabul dan kisah yang semu. Sekali lagi aku berucap aku menyayangimu. Dalam diam dalam bayang. Cinta.
Jika nanti aku sudah tidak ada di dekatmu ingatlah aku walau hanya di ujung ingatanmu. Sekecil apapun aku harap aku pernah ada dan berarti di hidupmu. Untukmu, asa yang harus aku kubur, harap yang tak mungkin terkabul dan kisah yang semu. Sekali lagi aku berucap aku menyayangimu. Dalam diam dalam bayang. Cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar